Tuesday, May 11, 2004

Menelusuri Pelacuran ABG di Pulau Batam, kep. Riau

BATAM- KEP. RIAU.

"SAYA hanya mencari uang," kata Tati. Gadis berusia 15 tahun itu, bisa ditemukan di salah satu karaoke di Nagoya, Pulau Batam. Ia dipajang dalam etalase dengan nomor dada 16.

Di dalam etalase, Tati selalu tersenyum. Ia sengaja duduk dengan menopangkan kaki kakan di atas kaki kirinya, sehingga rok mini yang dikenakan sedikit tersingkap.

Bagaimana cara berkenalan dengan Tati? Seorang petugas di tempat itu akan dengan gampang memanggil Tati ke luar etalase, jika menyebut angka yang terpampang di dadanya. Bukan hanya Tati, puluhan gadis lain yang dipajang di tempat itu, bisa keluar dengan sekali menyebut angka.

Belakangan ini, Batam sudah menjadi 'gudang' pelacur ABG. Jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Para gadis berusia antara 14 sampai 19 tahun ittu ditampung di ratusan rumah toko (ruko) di kawasan Nagoya dan Sei Jodoh. Pada malam hari, mereka menjadi 'pemikat' di sekitar 30 tempat hiburan yang tersebar di Batam.

Umumnya tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, panti pijat, menyimpan sekitar 50 sampai 100 orang wanita muda yang masih tergolong 'anak baru gede' (ABG) sebagai karyawan untuk menjaring tamu-tamu yang haus hiburan.

Kecuali pub, hampir semua tempat hiburan menyimpan wanita. Meski tidak langsung terlihat di etalase tempat hiburan, karena ada larangan dari pemerintah dan Otorita Batam, namun hampir tidak ada tempat hiburan yang tidak menyediakan wanita.

Di setiap tempat hiburan itu, para ABG dikordinasi oleh seorang germo, yang biasa dipanggil dengan sebutan mami. Jika ada yang memesan, si mami dengan gampang menuntun para ABG seperti Tati untuk duduk di samping pria.

Tati mengaku, berasal dari sebuah desa di Jawa Barat. Ia datang ke tempat itu bertujuan mencari uang sebanyak mungkin. Untuk itu ia belajar berbagai hal, termasuk memilih parfum yang bisa memancing gairah pria. Ia juga sudah pandai menyanyi.

Tati juga sudah terbiasa menyapa orang dengan bahasa yang sangat santun. Bila bicara dengan pria, dia selalu merapatkan mulutnya ke telinga lawan bicaranya, dengan napas agak diembuskan. "Itu cara mengundang pria," katanya.

Dengan berbagai cara, Tati selalu berupaya agar pria yang ditemani bisa langsung mengajaknya ke 'lantai atas'. Sebutan untuk tempat tersedianya kamar tidur.

"Semakin banyak pria yang saya temani, semakin besar penghasilan saya," katanya. Itu makanya, Tati selalu mencari akal agar pria yang didampingi bisa segera di ajak ke 'lantai atas'.

Sebagai wanita pencari uang, Tati tidak pernah memilih teman kencannya. Dia bersedia menerima siapa saja, "Saya sering melayani pria tua dari Singapura," katanya.

Tati merasa betah di tempat itu. Sejak datang dari Jawa Barat, Tati telah dua kali memperpanjang kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja. Satu ikatan kontrak lamanya empat bulan. Sepanjang waktu itu, dia tidak boleh keluar kecuali seizin mami atau diboking pria.

"Kontrol terhadap kami sangat ketat, sehingga tidak bisa sesuka hati pergi ke suatu tempat," katanya. Germonya, harus tetap mengetahui di mana posisi mereka setiap saat, karena kadang-kadang ada 'pesanan' mendadak.

Di perusahaan itu, ada sekitar 80-an wanita seperti Tati. Untuk membawa mereka selama 1 malam, harus membayar Rp 300.000. Mereka boleh dibawa sore hari atau malam hari, sampai besok harinya paling lambat pukul 09.00 WIB.

Mereka hanya memperoleh sebagian kecil dari tarif yang dikenakan oleh pengelola hiburan. Itu sebabnya, para ABG banyak yang memilih untuk tinggal di luar agar gampang menjaring pelanggan tanpa ikatan.

"Kami hanya mendapat Rp 40.000 untuk short time, sementara untuk satu malam, kami hanya mendapat Rp 100.000," ujar Iis, 16 tahun. Pengaturan tarif sebesar itu dilakukan karena untuk short time, perusahaan memberikan Rp 40.000 untuk sewa kamar, Rp 20.000 bagi sopir taksi atau pengantar, dan Rp 60.000 ke perusahaan.

Setelah uangnya terkumpul, mereka biasanya pulang kampung. "Tapi tidak selalu banyak dibawa ke kampung, karena banyak potongan tinggal di sini," ujar Titi, 18 tahun. Pada masa kontrak empat bulan lalu, Titi mengaku hanya membawa uang sebesar Rp 2 juta ke kampung.

Wanita berkulit kuning langsat itu mengakui dirinya memang boros. Majikannya sering membawa pakaian-pakaian yang menarik dan dibagikan kepada mereka, yang mengambil harganya dihitungkan pada akhir masa kontrak. Umumnya harga pakaian itu jauh di atas harga normal.

Akibat pemerasan oleh majikan itu, banyak ABG yang melarikan diri, "Karena tidak ada uang masuk, sementara biaya hidup di sini semakin tinggi," ujar Yayang, 17 tahun. Semula, wanita penghuni karaoke tempat Yayang bekerja berjumlah 120 orang, sekarang tinggal 60 orang.

Di luar tempat hiburan, terdapat ABG yang memang berasal dari Batam atau daerah sekitarnya dan masih sekolah di SLTA. Tapi jumlahnya hanya sedikit. Mereka bisa ditemukan di pusat keramaian Nagoya, Pelita, dan Jodoh, Batam Timur.

ABG-ABG itu juga biasa mangkal di sejumlah diskotek, Lucky Plaza dan hotel-hotel. Cirinya, mereka menggunakan pakaian dengan dada terbuka, sepatu hak tinggi, serta menyandang tas kecil di punggung. Mereka keluar dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Konsumen wanita ABG ini cukup beragam. Mulai dari pemuda yang bekerja di sejumlah industri atau sektor informal, hingga pria tua bangka dari Singapura atau Malaysia.

Bahkan sejumlah pria berumur dari Singapura menjadikan para ABG itu sebagai istri simpanan.

Mereka diberi biaya hidup yang memadai, yakni mulai dari Sin$500 per bulan hingga Sin$1.500 per bulan. Atau jika dirupiahkan, para istri simpanan itu akan menerima tunjangan biaya hidup sebesar Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Mereka akan berada kembali di 'remang' malam begitu 'suaminya' pulang ke Singapura. Para istri simpanan itu, tidak terlalu susah digaet. Mereka bisa diajak ke diskotek hanya dengan modal ekstasi.

bersambung.....